Arsip Cofa No. A 004
donasi dg belanja di Toko One
Kasprzak dan Poirier (1983) melakukan penelitian mengenai pengaruh kalsium dan magnesium asetat terhadap distribusi kadmium dalam jaringan tubuh tikus Wistar. Secara fisiologis garam-garam bervalensi dua, seperti mangan, seng, magnesium dan kalsium, memperlihatkan aksi yang berlawanan dengan aksi logam-logam penyebab kanker, yaitu kadmium, nikel dan timah hitam. Mekanisme kerja logam-logam bervalensi dua ini masih belum jelas. Pada studi kami, di mana magnesium – tapi tidak berlaku bagi kalsium – ternyata mencegah pertumbuhan kanker pada lokasi penyuntikan kadmium klorida, sehingga disimpulkan bahwa efek pencegahan yang dimiliki kalsium mungkin ditimbulkan oleh menurunnya jumlah kadmium yang diikat oleh jaringan sasaran.
Kasprzak dan Poirier (1983) melaporkan bahwa penyerapan kadmium oleh jaringan, distribusi dan konsentrasinya yang ditemukan dalam penelitian ini sesuai dengan hasil-hasil penelitian terdahulu (Lucius et al., 1972; Hordberg, 1972; Kotsonis dan Klaassen, 1977). Konsentrasi kadmium awal dalam jaringan tidak selalu sebanding dengan dosis penyuntikan. Bila dosis penyuntikan dilipat-duakan maka peningkatan konsentrasi kadmium yang bersesuaian dialami oleh darah, hati, ginjal, pankreas, jantung, paru-paru dan kulit yang jauh dari lokasi penyuntikan, tetapi tidak dialami oleh kulit pada lokasi penyuntikan itu sendiri atau oleh limfa dan testes. Pada lokasi penyuntikan pemberian kedua macam dosis CdCl2 , praktis menghasilkan laju penyerapan kadmium yang sama. Pada limfa dan testes, penyerapan CdCl2 dosis tinggi selama empat hari pertama melebihi dua kali lipat; kedua organ ini diketahui sangat peka terhadap sifat racun kadmium (Bondia et al., 1980; Suzuki et al., 1981) Konsentrasi kadmium pada lokasi penyuntikan menurun pada hari ke-4 sampai hari ke-45, baik pada kelompok dosis tinggi maupun dosis rendah. Pada tikus yang diberi dosis rendah, tetapi tidak pada tikus yang diberi dosis tinggi, penurunan ini umumnya bersamaan dengan meningkatnya konsentrasi kadmium pada jaringan yang jauh dari lokasi penyuntikan pada hari ke-4 sampai ke-15. Pengamatan ini memperkuat dugaan bahwa kadmium perlahan-lahan dilepaskan dari lokasi penyuntikan dan diserap oleh jaringan-jaringan lain yang kapasitas pengikatannya belum terlampaui.
Kalsium asetat dan magnesium asetat yang diberikan bersama CdCl2 sangat mempengaruhi penyerapan kadmium. Bagaimanapun, hampir semua pengaruh ini tampaknya merupakan akibat tak langsung dari interaksi antara logam-logam tersebut dengan jaringan-jaringan pada lokasi penyuntikan, jadi bukan dari interaksi masing-masing organ atau jaringan secara terpisah. Jadi, kalsium asetat, yang meningkatkan lama penyimpanan kadmium pada lokasi penyuntikan, mengurangi timbunan kadmium pada jaringan-jaringan lain. Sebaliknya, pemberian magnesium asetat menghambat penimbunan kadmium pada lokasi penyuntikan sehingga meningkatkan lama penyimpanan logam ini pada jaringan-jaringan lain. Sangat mungkin, perbedaan pola penyerapan kadmium pada lokasi penyuntikan merupakan akibat dari perbedaan pengaruh antara kalsium asetat dan magnesium asetat terhadap pembuluh darah. Kalsium, melalui aksinya dalam mempengaruhi otot polos pembuluh darah agar berkontraksi (Aikawa, 1981), akan merintangi aliran darah sehingga memperlambat mobilisasi kadmium. Magnesium, yang sifatnya bertolak belakang dengan kalsium dalam masalah ini (Aikawa, 1981), akan menghasilkan efek yang berlawanan pula.
Hasil penelitian ini secara umum mendukung dugaan kami bahwa efek penyebab-kanker (carcinogenesis) yang ditimbulkan oleh kadmium dihambat oleh magnesium asetat melalui aksi penghambatan terhadap pengikatan agen penyebab-kanker pada jaringan sasaran (Kasprzak et al., 1983). Bagaimanapun, penghambatan terhadap pengikatan kadmium oleh magnesium asetat berjalan tidak sempurna dan pengaruh dosis kadmium terhadap pembentukan kanker pada lokasi penyuntikan tidak jelas. Jadi, penurunan penyerapan kadmium adalah mungkin, tetapi hal ini tidak selalu berkaitan dengan kemampuan magnesium dalam menghambat efek karsinogenik kadmium.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar