Kamis, 26 Januari 2017

Pengaruh Cahaya, Salinitas dan Suhu Terhadap Pemijahan Amfipoda

donasi dg belanja di Toko One


Morritt and Stevenson (1993) melaporkan bahwa siklus pemijahan alami kutu pantai Orchestia gammarellus menunjukkan adanya betina yang mengandung telur di dalam populasi lapangan antara bulan April dan September; spesis ini berhenti memijah selama musim dingin (Oktober – Maret). Jumlah betina lebih banyak daripada jumlah jantan selama musim pemijahan. Binatang yang dikumpulkan dari lapangan perlahan-lahan menjadi lebih mudah untuk dibawa ke kondisi pemijahan dibandingkan binatang yang dikumpulkan pada bulan berikutnya pada akhir musim pemijahan alami. Ada fase pemulihan pada akhir musim pemijahan alami, tetapi rentang waktunya bisa dikurangi dengan meningkatkan suhu sekeliling binatang tersebut. Permulaan reproduksi ataupun fekunditas betina tidak dipengaruhi oleh panjang hari (percobaan dengan kondisi siang/terang 14 jam dan malam/gelap 10 jam memberikan hasil yang sama dengan kondisi siang 24 jam dan malam 0 jam). Salinitas tidak memberikan pengaruh yang mantap terhadap permulaan pemijahan atau fekunditas betina, walaupun laju perkembangan embryo pasti menjadi lebih lambat pada salinitas tertinggi (100 % air laut). Faktor lingkungan yang penting bagi pengendalian reproduksi Orchestia gammarellus adalah suhu. Suhu yang lebih tinggi menyebabkan amfipoda ini memulai reproduksi lebih cepat (dalam kisaran 15 – 22 oC). Awal pemijahan di lapangan terjadi bila suhu udara maksimum mencapai 10 oC.

donasi dg belanja di Toko One

Referensi :
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar